5 Prosedur Jual Beli Tanah

5 Prosedur Jual Beli Tanah

Data Penjual

Berikut adalah data penjual yang perlu Anda cermati kelengkapannya:

  1. Fotokopi KTP (apabila sudah menikah maka fotokopi KTP Suami dan Istri);
  2. Kartu Keluarga (KK);
  3. Surat Nikah (jika sudah nikah);
  4. Asli Sertifikat Hak Atas Tanah yang akan dijual meliputi (Sertifikat Hak Milik, Sertifikat Hak Guna Bangunan, Sertifikat Hak Guna Usaha, Sertifikat Hak Milik atas Satuan Rumah Susun). Selain 4 jenis sertifikat tersebut, bukan Akta PPAT yang digunakan, melainkan Akta Notaris;
  5. Bukti Pembayaran Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) 5 tahun terakhir;
  6. NPWP;
  7. Fotokopi Surat Keterangan WNI atau ganti nama, bila ada untuk WNI keturunan;
  8. Surat bukti persetujuan suami istri (bagi yang sudah berkeluarga);
  9. Jika suami/istri penjual sudah meninggal maka yang harus dibawa adalah akta kematian;
  10. Jika suami istri telah bercerai, yang harus dibawa adalah Surat Penetapan dan Akta Pembagian Harta Bersama yang menyatakan tanah/bangunan adalah hak dari penjual dari pengadilan.

Data Pembeli

Berikut adalah data pembeli yang perlu Anda persiapkan jika ingin melakukan jual beli tanah:

  1. Fotokopi KTP (apabila sudah menikah maka fotokopi KTP suami dan Istri);
  2. Kartu Keluarga (KK);
  3. Surat Nikah (jika sudah nikah);
  4. NPWP.

Proses Pembuatan AJB di Kantor PPAT

Sebelum membuat AJB, PPAT akan melakukan pemeriksaan mengenai keaslian sertifikat ke kantor Pertanahan. Penjual harus membayar pajak penghasilan (PPh, sedangkan pembeli diharuskan membayar Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB), dengan ketentuan sebagai berikut:

Pajak Penjual (PPh = NJOP/Harga Jual x 5 %

Pajak Pembeli (BPHTB) = {NJOP/Harga Jual – Nilai Tidak Kena Pajak} x 5 %

NJOP adalah singkatan dari Nilai Jual Objek Pajak, yakni harga rata-rata yang diperoleh dari transaksi jual beli yang terjadi secara wajar. Calon pembeli dapat membuat surat pernyataan bahwa dengan membeli tanah tersebut maka tidak lantas menjadi pemegang Hak Atas Tanah yang melebihi ketentuan batas luas maksimum. PPh maupun BPHTB dapat dibayarkan di Bank atau Kantor Pos. sebelum PPh dan BPHTB dilunasi maka akta belum dapat dibayarkan. Biasanya untuk mengurus pembayaran PPh dan BPHTB dibantu oleh PPAT bersangkutan.

Anda perlu mengecek apakah jangka waktu Hak Atas Tanah sudah berakhir atau belum. Sebab untuk Sertifikat Hak Guna Bangunan (SHGB) dan Sertifikat Hak Guna Usaha (SHGU) ada jangka waktunya. Jangan sampai membeli tanah SHGB atau SHGU dengan kondisi sudah jatuh tempo.

Selanjutnya, Anda perlu mengecek apakah di atas tanah yang akan dibeli ada Hak yang lebih tinggi. Misalkan, tanah yang akan dibeli adalah tanah SHGB yang di atasnya ada Hak Pengelolaan (HP). Penjual dan pembeli harus meminta izin dahulu kepada pemegang hak pengelolaan tersebut.

Berikutnya, apakah rumah yang akan dibeli pernah menjadi jaminan kredit dan belum dilakukan penghapusan (roya) atau tidak. Apabila pernah, harus diminta surat roya dan surat lunas dari penjual agar nantinya bisa balik nama.

Pembuatan AJB

Pembuatan AJB harus dihadiri penjual dan pembeli (suami istri bila sudah menikah) atau orang yang diberi kuasa dengan surat kuasa tertulis. Adapun, saksi yang perlu dihadirkan sekurang-kurangnya dua saksi.

Proses ke Kantor Pertanahan

Setelah AJB selesai di buat, PPAT menyerahkan berkas AJB ke kantor pertanahan untuk balik nama. Penyerahan berkas AJB harus dilakukan selambat-lambatnya tujuh hari kerja sejak ditandatangani.

Adapun berkas-berkas yang diserahkan meliputi:

Surat permohonan balik nama yang telah ditandatangani pembeli.

  1. Akta Jual Beli dari PPAT.
  2. Sertifikat Hak Atas Tanah.
  3. Fotokopi KTP penjual dan pembeli.
  4. Bukti lunas pembayaran PPh dan BPHTB.

 

Tinggalkan Balasan